Kasus Refelsild - Tegalwebside.com

Sunday

Kasus Refelsild

Kasus Refelsild saputro

Cerpen Indonesia -  Semenjak kelahiran putra pertamanya, keluarga Wayne bersikap sungguh ramah kepada semua orang. Terlebih sang ibu baru, nyonya Rose Wayne yang sekarang nampak cerah wajahnya. Dia seorang keturunan inggris, ayahnya masih bagian dari keluarga sebuah kerajaan kecil britania, bernama Refelsild. sementara ibunya murni rakyat jelata.

Seminggu yang lalu nyonya wayne baru saja melahirkan anak yang di nantikannya selama 10 tahun usia pernikahan. Ini membuat seluruh keluarganya senang bukan main, tapi entah mengapa dia Bersama suaminya memutuskan pergi dari inggris. Dan menginginkan kehidupan yang lebih mandiri diluar negeri. Mereka memutuskan membeli sebuah rumah diwilayah timur negeri yang tidak pernah mereka bayangkan sebelumnya, indonesia. Mereka sempat dilarang keras oleh sang ayah tapi karena tekad mereka bulat dan berlandaskan sifat manusia yang sejatinya menginginkan kebebasan seutuhnya, mereka pergi juga.

Mereka akhirnya benar-benar hidup diluar negeri tanpa sodoran uang sepeserpun dari kerajaan inggris. Itu membuat sang suami, John wayne memutar otak. Dengan modal seadanya, Dia mencoba membuka kebun dan mulai bercocok tanam. Tapi baru menginjak satu bulan, semua tanamannya mati terkena hama dan dimakan hewan pengerat. Hal Itu sempat membuat kondisi kesehatannya menurun dan mentalnya jatuh seketika. Tapi berkat dorongan sang istri, john kembali bangkit. Dia menjual lahan kebun dan rumah pertamannya yang cukup bagus.

Hasil dari penjualan itu sebagian dibelikannya sebuah rumah yang tentunya lebih kecil dari yang pertaman tapi tentu masih layak huni. Dirumah keduanya ini, John mulai menggeluti bisnis makanan. Dari mulai makanan ringan khas eropa barat hingga makanan berat dari eropa timur, john sangat berbakat dalam menyajikannya.

Bisnisnya kali ini ternyata jauh menguntungkan, dengan modal yang lebih kecil dari berkebun. Dia justru bisa meraupkeutungan berkali lipat. hingga 7 tahun berlalu, mereka sudah memiliki sebuah restoran besar ditengah kota denpasar. Dan hidup mereka jauh lebih makmur dan bahagia saat ini, dibandingkan saat pertama kali kesini maupun saat masih menjadi anggota keluarga kerajaan. Sekarang mereka terkenal dengan sebutan tuan dan nyonya Refelsild.


“Jimmy refelsild, ayahmu sudah menunggu dibawah, apakah kau tidak jadi berenang hai ini, nak?” Suara rose menggelegar bagai petir disiang bolong, dia mendongak keatas-melihat kearah kamar anaknya. Saat itu anak semata wayangnya tumbuh dengan kecerdasan otak yang luar biasa. Diumurnya yang baru menginjak 7 tahun, dia sudah menguasai 3 bahasa; inggris, indonesia, dan  prancis.

 “Wait, mom. Bilang pada john… je porte des chaussures.”

 “Kenapa lama sekali memakai sepatunya, Jim. Ayahmu sudah kepanasan menunggu di mobil, dia bisa saja gosong kalau kau terlalu lama diatas.”

Lima menit kemudian, putra tersayangnya keluar dengan muka sedikit cemberut. Dia sejatinya tidak suka jika harus bepergian hanya berdua dengan ayahnya.

“Aku canggung kalo hanya berdua dengan john, bu. Come on, ikutlah.”

Nyonya refelsild menggeleng yakin, dia sedikit menahan tawa  keironisan akan sifat anaknya yang begitu jujur padanya.

 “Kau harus mebiasakan diri. Dia ayah kandungmu. Sewaktu kau kecil memang jarang bertemu dengannya. Karena dia pria yang sangat gigih dalam bekerja, dan dulu keluarga kita tidak memiliki apapun, nak. Nah sekarang kita sudah sejahtera. Dan ayahmu sudah tidak perlu lagi mengorbankan seluruh waktunya untuk bekerja, dia akan memberi waktunya untukmu.”

 Jimmy menunduk, sedikit keraguan melintas dipikirannya tapi dia tetap mengangguk. “baiklah, akan aku coba.”


Pukul 17:30 perasaan tidak karuan dirasakan oleh nyonya Refelsild, hatinya was-was pikirannya melayang-layang kemana-mana. Dia khawatir karena hingga sat ini kedua lelakinya belum saja pulang padahal cahaya langit sudah separuh dimakan oleh kegelapan malam. Dia sudah mencoba menelfon suaminya, dan sudah 5 kali panggilannya dialihkan. Tidak seperti biasanya, suaminya adalah orang yang berintegritas tinggi. Dia sangat paham itu, john selalu mengangkat telfon darinya. Tapi kali ini sungguh menyiksa pikiran.

Rose bukanlah type orang yang mudah putus asa dan berpangku diri. Dia selalu mencoba hal-hal diluar nalar orang lain. Dan sekarang dia menghubungi beberapa kenalan yang dia anggap dekat dengan suaminya. Tapi dari sekian banyak orang yang dia telfon semuanya kompak menjawab tidak tahu. Hingga yang tersisa dalam buku telfon yang belum dihubunginya hanya restoran Refelsild miliknya.

Dia sungguh ragu bila john pergi  kerestoran, karena dia sendiri bilang bahwa sungguh melelahkan setiap hari harus melihat restoran, karyawan, oven, wajan penggorengan, meja yang berantakan terus menerus-dia sendiri sudah merasa bosan pergi kerestoran. mungkin perbandingannya 1 : 90 jika john mampir kerestorannya. Tapi tentu itu perlu dicoba.

Hampir saja Rose memencet tompol panggil tapi dia urungkan, karena tepat pada saat itu terdengar suara ketukan pintu lalu diikuti suara anak kecil yang dinantikannya. “mom… mommm… bukakan pintunya.”

Dengan sigap  sang ibu berlari menuju pintu depan, memutar gagang kuncinya dan membuka pintu. Anaknya yang malang berdiri dengan wajah merah hitam. Tapi sang ibu sudah memeluknya.

 “lama sekali kau berenang? Ibu sangat mengkhawatirkanmu.”

 Jimmy memalingkan wajahnya. “ini adalah pengalaman renang terburukku, aku tidak mau berangkat bersama john lagi.”

 “Loh, jangan begitu sayang, Kau hanya belum mengenal ayahmu. Lalu… dimana ayahmu?” nyonya rose baru menyadari suaminya tidak bersama anak tersayangnya. Dia semakin bingung.

 “kami mampir kesebuah restoran jelek bernama seperti nama belakangku. Dan disana john sangat lama mengobrol, hingga akhirnya aku pulang sendirian.”

 “apah? Ayahmu ini, dia bilang sudah bosan pergi kerestoran.”

Suara telfon berdering cukup kencang dari dalam rumah. “ Sebentar ya nak ibu ambil telfon dulu.” Buru-buru sang ibu mengambil gagang telfonnya. Dilayar kecil nampak nama Restoran Refelsild  yang menghubungi.

 “apah? Kalian tidak sedang bercanda bukan?!”

“membawa ke dokter? Baiklah, aku akan segera kesana bersama dengan seorang dokter.”  Dengan secepat kilat, nyonya rose mengambil mantel dan tasnya. Kekhawatiran akan sauminya akhirnya benar-benar memuncak dan meledak ketika Dia mendapat laporan bahwa suaminya terkunci didalam ruangan kerjanya dan mungkin pingsan disana.  Dia memberitahu jimmy situasinya saat ini, lalu meninggalkannya dirumah.

Dokter… dokter… ya.. dia harus membawa dokter untuk menangani suaminya. Tapi sialnya dia baru ingat, dokter pribadinya sedang mengambil cuti hari ini  dan tugas diberikan kepada suster perawat yang tidak bejus sama sekali. Lalu siapa yang akan dia bawa? Jam segini hampir magrib beberapa klinik pasti istirahat, jadi tidak mungkin mengandalkan mereka. Tapi akhirnya dia ingat perkataan nyonya juli, tetangga samping rumahnya. Dia berkata kalau dia baru mendapat pelanggan pria unik yang seperti raksaksa. Tubuhnya gempal dan tinggi tapi dia pintar dan mampu mengobati sesak nafas yang dialami saudaranya dengan cermat. Dia ingat namanya Victor, Tidak ada salahnya untuk mencoba menemuinya.

Didepan rumah sewaan itu, nyonya rose mengetuk daun pintunya tanpa ragu. Pintu itu terbuka setelah beberapa saat dan muncul pria yang dikatakan oleh tetangganya itu sebagai raksaksa. Dengan ringkas dan cepat nyonya rose menceritakan semua masalah dan situasi yang sedang dihadapinya. Dan pria itu mengangguk paham akan hal itu, mereka akhirnya langsung menuju kerestoran. Dan sampai disana tepat saat magrib tiba.

Didalam restoran semua karyawan panik bukan main, semuanya berwajah pucat pasi. Diantara mereka, satu memberanikan diri maju menemui nyonya mereka,lalu menunjukan ruangan kerja tuan John. Pintunya masih terkunci rapat.

 “kami sudah sekuat tenaga mendobraknya nyonya, tapi pintu ini sangat kuat.” Kata si manajer restoran dengan raut wajah menyesal.

 Karyawan itu memberi penjelasan. “dan tuan John kami panggil, tidak menyaut sama sekali. Telfonnya pun tidak aktif.”

“sudah berapa lama dia ada didalam?’’ Victor bertanya.

“dia masuk sekitar pukul 14:00 bilang pada kami kalau kepalanya sedikit pusing dan butuh istirahat dia pesan pada kami; kalau ada tamu suruh pulang saja, katanya padaku.”

“baiklah, aku ingin mencoba mendobraknya. Sebaiknya kau agak minggir sedikit bung, aku membutuhkan ruang yang cukup.”

Victor mengambil ancang-ancang dan Dalam dua kali percobaan akhirnya pintu itu terpental. Dimeja kerjanya, John Refelsild ambruk tak bergerak  Dengan posisi tengkurap. Istrinya menjerit histeris lalu melompat menuju ketubuh yang tak berdaya sama sekali itu. Ketika tubuhnya diposisikan seperti orang duduk, busa putih mengalir dari mulutnya. Dibawah meja kerjanya banyak muntahan yang bercecer, beberapa bercampur dengan darah. Victor mengambil sapu tangan dari balik jaznya lalu mengecek urat nadi tuan john, dia menggeleng.

“maaf nyonya, tuan ini sudah tiada.”

 nyonya Rose menjerit dan semakin histeris.

Kasus Refelsild - bagian 1
Oleh: Saputro

Share with your friends

Give us your opinion

Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Tidak diperkenankan meng-copy sebagian atau seluruh konten tanpa seizin penulis.